Sabtu, 07 September 2013

Kurma 1934 H / 2013 M

Ini beberapa potret KURMA Edisi 1934 H./2013 M. Meskipun anggota yang antusias hanya segelintir orang saja, namun tidak membuat surut dari kbahagiaan. Alhamdulillah Berkah ....
Baca salajengna...

Senin, 20 Agustus 2012

Kurma Ramadhan 1433 H / 2012

Ramadhan 1433 H  tahun ini kembali di gelar setiap hari senin dan kamis,
Sudah tidak aneh mengenai pesertanya, ya ... Itu lagi  itu lagi  !!
Kali ini yang menjadi ketua panitia adalah Sdr. Budiyadi

Dan yang paling miris adalah ketidak hadiran para pemuda satu pun, ya hanya ketua pelaksana beserta pemudi nya saja. Weleh weleh .. ! Bagaimana kumaha ini ?! Sepertinya memilih jalan-jalan dan nongkrong ! Tapi sip saya acungkan jempol untuk para panitia yang sudah bersusah payah menjalankan rutinitas wajib, santapan rohani yang harusnya wajib tiap Ramadhan. Terutama Sdr. Budiyadi ! (lap. Elna)
Baca salajengna...

Sabtu, 04 Agustus 2012

Perbandingan Ka ayaan Lembur Baheula jeung Lembur anyar ayeuna

Lembur Baheula Pada 2010 Pada 2011 pada 2012 . Pada 2010 (Curug kuda photo grafer by : Elna) Geus bala jalan gé Lembur Anyar Photo Asli ti Dokumen Arsip Elna syamsudin (Eel)
Baca salajengna...

Jumat, 03 Agustus 2012

Sejarah Kabupaten Lebak

Sebagai bagian dari wilayah Kesultanan
Banten, Kabupaten Lebak dengan luas
Wilayah 304.472 Ha, sejarahnya tidak
dapat dipisahkan dari sejarah
Kesultanan Banten.
Berkaitan dengan Hari Jadi Kabupaten
Lebak yang jatuh pada tanggal 2
Desember 1828, terdapat beberapa
catatan sejarah yang menjadi dasar
pertimbangan, antara lain :
1.Pembagian Wilayah Kesultanan
Banten
Pada tanggal 19 Maret 1813, Kesultanan
Banten dibagi 4 wilayah yaitu :
- Wilayah Banten Lor
- Wilayah Banten Kulon
- Wilayah Banten Tengah
- Wilayah Banten Kidul
Ibukota Wilayah Banten Kidul terletak di
Cilangkahan dan pemerintahannya
dipimpin oleh Bupati yang diangkat
oleh Gubernur Jendral Inggris
(RAFFLES) yaitu TUMENGGUNG
SURADILAGA.
2. Pembagian Wilayah Keresidenan
Banten
Berdasarkan Surat Keputusan
Komisaris Jenderal Nomor 1, Staatsblad
Nomor 81 tahun 1828, Wilayah
Keresidenan Banten dibagi menjadi 3
(tiga) Kabupaten yaitu :
- Kabupaten Serang
- Kabupaten Caringin
- Kabupaten Lebak
Wilayah Kabupaten Lebak,
berdasarkan pembagian diatas
memiliki batas-batas yang meliputi
District dan Onderdistrict yaitu :
a. District Sajira, yang terdiri dari
Onderdistrict Ciangsa, Somang dan
Onderdistrict Sajira,
b. District Lebak Parahiang, yang
terdiri dari Onderdistrict Koncang dan
Lebak Parahiang.
c. District Parungkujang, yang terdiri
dari Onderdistrict Parungkujang dan
Kosek,
d. District Madhoor (Madur) yang
terdiri dari Onderdisrict Binuangeun,
Sawarna dan Onderdistrict Madhoor
(Madur).
3. Pemindahan Ibukota Kabupaten
Lebak
Pada tahun 1851, berdasarkan Surat
Keputusan Gubernur Jenderal Hindia
Belanda, nomor 15 tanggal 17 Januari
1849, Ibukota Kabupaten Lebak yang
saat itu berada di Warunggunung
dipindahkan ke Rangkasbitung.
Pelaksanaan pemindahannya secara
resmi baru dilaksanakan pada tanggal
31 Maret 1851.
4. Perubahan Wilayah Kabupaten Lebak
Wilayah Kabupaten Lebak yang pada
tahun 1828 memiliki District, dengan
terbitnya Surat Keputusan Gubernur
Jenderal Hindia Belanda tanggal 29
Oktober 1828, Staatsblad nomor 266
tahun 1828, diubah menjadi :
- District Rangkasbitung, meliputi
Onderdistrict Rangkasbitung, Kolelet
Wetan, Warunggunung dan
Onderdistrict Cikulur.
- District Lebak, meliput Onderdistrict
Lebak, Muncang, Cilaki dan Cikeuyeup.
- District Sajira meliputi Onderdistrict
Sajira, Saijah, Candi dan Maja.
- District Parungkujang, meliputi
Onderdistrict Parungkujang, Kumpay,
Cileles dan Bojongmanik.
- District Cilangkahan, meliputi
Onderdistrict Cilangkahan, Cipalabuh,
Cihara dan Bayah.
5. Tanggal 14 Agustus 1925
Berdasarkan Surat Keputusan
Gubernur Jenderal Hindia Belanda
tanggal 14 Agustus 1925, Staatsblad
nomor 381 tahun 1925 Kabupaten Lebak
menjadi daerah Pemerintahan yang
berdiri sendiri dengan wilayah meliputi
District Parungkujang, Rangkasbitung,
Lebak dan Cilangkahan.
6. Tanggal 8 Agustus 1950
Undang-undang Nomor 14 tahun 1950
tentang Pembentukan daerah-daerah
Kabupaten dalam lingkungan Propinsi
Jawa Barat.
Berdasarkan rangkaian sejarah
tersebut kami berpendapat bahwa titi
mangs tepat untuk ditetapkan sebagai
Hari Jadi Kabupaten Lebak adalah
tanggal 2 Desember 1828, dengan dasar
pemikiran dan pertimbangan sebagai
berikut :
a. Tanggal 2 Desember 1828,
berdasarkan Staatsblad Nomor 81
tahun 1828 merupakan titik awal
pembentukan 3 (tiga) Kabupaten di
wilayah bekas Kesultanan Banten dan
nama Lebak mulai diabadikan menjadi
nama Kabupaten dengan batas-batas
wilayah yang lebih jelas sebagaimana
tercantum dalam pembagian wilayah
ke dalam District dan Onderdistrict
(Kewedanaan dan Kecamatan).
Walaupun terdapat perubahan nama
dan penataan kembali wilayah District
dan Onderdistrict tersebut, wilayah
Kabupaten Lebak dalam
perkembangan selanjutnya
sebagaimana tertuang dalam
Staatsblad nomor 226 tahun 1828,
Staatsblad nomor 381 tahun 1925 dan
Undang-undang nomor 14 tahun 1950,
merupakan wilayah Kabupaten Lebak
sebagaimana adanya saat ini.
Sebelum adanya Staatsblad nomor 81
tahun 1828, selain nama Lebak belum
pernah diabadikan batas wilayah untuk
Kabupaten yang ada di wilayah Banten
karena belum adanya kejelasan yang
dapat dijadikan dasar penetapan.
b. Tanggal 2 Desember 1828 yang
bertepatan dengan saat
diterbitkannya Staatsblad nomor 81
tahun1828, tidak dijadikan dasar
penetapan sebagai Hari Jadi bagi dua
Kabupaten lainnya, yaitu Kabupaten
Serang dan Pandeglang.
Upaya yang dilakukan Pemerintah
Kabupaten Lebak beserta seluruh
aparat serta dukungan seluruh
masyarakat Kabupaten Lebak melalui
wakil-wakilnya di DPRD, telah berhasil
menentukan Hari Jadi Kabupaten
Lebak dengan lahirnya Keputusan DPRD
nomor 14/172.2/D-II/SK/X/1986, yang
memutuskan untuk menerima dan
menyetujui bahwa Hari Jadi Kabupaten
Lebak jatuh pada tanggal 2 Desember
1828 beserta rancangan peraturan
daerahnya.

Sumber: Forum Kumala

Baca salajengna...

Rabu, 07 Juli 2010

Dua belas Motif Batik Banten

AGAR anda tahu dan semakin jelas motif-motif apa saja yang menjadi andalan Batik Banten di bawah ini penjelasan untuk Anda. Tentu dari penjelasan ini Anda bisa memilih motif apa yang cocok untuk Batik Banten pilihan Anda.

Motif Sabakingking : Motif dasar berupa segi empat dengan tumpulan dan sisi-sisinya yang berbulu, diberi variasi 3 warna. Nama Sabakingking diambil dari nama gelar Panembahan Sultan Maulana Hasanuddin, raja pertama kerajaan Banten (1552-1570).

Motif Mandalikan : Motif dasar berupa belah ketupat dengan bentuk bunga berada di tengah-tengah dalam sebuah bintang. Nama Mandalikan diambil dari nama gelar bagi pangeran Banten, yaitu Pangeran Mandalika.

Motif Srimanganti : Motif dasar berbentuk tumpal bergerigi ganda dan ceplok lingkaran serta setengah bulatan dalam lingkaran. Nama Srimanganti diambil dari nama ruang di keraton (Sri = Raja, Manganti = menanti) jadi yang dimaksud adalah pintu gerbang yang beratap yang menghubungkan keraton.

Motif Pasepen : Motif dasar persegi empat berbentuk bunga dan lingkaran polos berjajar empat buah. Nama Pasepen diambil dari nama sebuah ruang di keraton tempat Sultan bersemedi.

Motif Pejantren : Motif dasar berupa bunga cengkeh dalam lingkaran dengan variasi motif bunga-bunga setengah lingkaran dari motif dasar. Nama Pejantren diambil dari nama pemukiman masyarakat Banten yang berprofesi sebagai penenun.

Motif Pasulaman : Motif dasar berupa belah ketupat lingkaran yang berada dalam lingkaran segi empat. Nama Pasulaman diambil dari nama pemukiman masyarakat Banten yang berprofesi sebagai penyulam.

Motif Kapurban : Motif dasar berbntuk ketupat dengan hiasan berupa bunga. Nama Kapurban diambil dari nama gelar pangeran Banten, yaitu Pangeran Purba.

Motif Kawangsan : Motif dasar berupa bunga bergerigi, variasi motif berbentuk daun dan buah dengan motif dasar berupa belah ketupat dan lingkaran polos. Nama Kawangsan diambil dari nama gelar pangeran Banten, yaitu Pangeran Wangsa.

Motif Pamaranggen : Motif dasar belah ketupat dengan bunga yang berada di tengah-tengahnya, memiliki variasi motif semacam sayap kupu-kupu. Nama Pamaranggen diambil dari nama pemukiman masyarakat Banten yang berprofesi sebagai pembuat keris.

Motif Surosowan : Motif dasar tumpul bergerigi dengan hiasan bunga. Nama Surosowan diambil dari nama keraton kesultanan Banten, Keraton Surosowan yang berasal dari kata Suro dan Sowan yang berarti tempat untuk menghadap.

Motif Pancaniti : Motif dasar belah ketupat berbentuk bungan dan lingkaran polos yang berada di tengah-tengah bunga matahari. Nama Pancaniti diambil dari nama tata ruang keraton dalam lingkungan istana tempat raja menyaksikan pelatihan para prajurit.

Motif Datu Laya : Motif dasar belah ketupat berbentuk bunga dan lingkaran dalam pigura sulur-sulur daun. Nama Datu Laya diambil dari nama tempat tinggal pangeran yang berasal dari kata Datu = pangeran dan Laya = residen. (desty eka putri)

(Radar Banten, 30 Maret 2010)
Baca salajengna...

Ribuan Warga Hadiri Seren Taun Cisungsang

Monday, 28 June 2010

BAKSEL, (KB).-
Ribuan warga hadiri upaca adat turun temurun seren taun di Kaolotan Cisungsang Desa Cisungsang, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Minggu (27/6).

Kegiatan tradisi peninggalan Kerajaan Padjadjaran, sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen itu dihadiri Wakil Gubernur Banten HM Masduki, sejumlah kepala dinas Propinsi Banten, Muspida Lebak, Dandim 0603 Lebak dan unsur Muspika Kecamatan Cibeber.

"Seren taun merupakan upacara yang digelar setahun sekali oleh masyarakat Kasepuhan Cisungsang. Upacara seren taun adalah ungkapan syukur atas hasil panen padi yang melimpah," kata Kasepuhan Cisungsang Abah Usep kepada wartawan di sela-sela kegiatan.

Abah Usep menjelaskan, kegiatan tahunan ini, diisi dengan beberapa acara seni budaya diantaranya dogdg lojor, angklung buhun, rengkong, dan hiburan rakyat yang digelar selama tujuh hari yang ditandai dengan peletakan padi ke lumbung pada prosesi ngadiukeun. "Kegiatan ini dalam bahasa kasepuhannya biasa disebut mi eling beubeungkeutan anak incu putu," katanya.

Diterangkan Abah Usep, seren taun merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan oleh para kasepuhan setempat. Tujuannya sebagaimwahana evaluasi kegiatan anak cucu satu tahun ke belakang dan merencanakan aktivitas yang akan datang.

Selain itu, menurut Abah Usep, kegiatan seren taun itu juga diorientasikan untuk menyucikan diri dari segala tingkah laku selama satu tahun ke belakang. "Kegiatan seren taun ini sudah dilaksanakan tujuh abad yang lalu," tuturnya.

Pada bagian lain Abah Usep, meminta kepada pemerintah untuk memperhatikan kondisi infrastruktur yang saat ini kondisinya cukup memprihatinkan. Dalam sambutannya, Wakil Gubernur Banten HM. Masduki, mengharapkan masyarakat Cisungsang khususnya dan Cibeber umumnya untuk tetap mempertahankan budaya dan tradisi seren taun ini. Karena, kegiatan ini sudah berlangsung tujuh abad yang lalu.

"Saya berharap kepada kasepuhan Cisungsang untuk tetap mempertahankan tradisi seren taun ini, karena ini merupakan ajang untuk mempererat tali silaturahim antar sesama serta wujud syukur kepada yang maha kuasa atas keberhasilan dibidang pertanian," katanya.

Menyoal perbaikan infrastruktur jalan, Masduki menjelaskan, hal tersebut merupakan tanggung jawab Pemkab Lebak, karena seperti diketahui jalan tersebut merupakan milik Pemkab Lebak. Untuk itu orang nomor dua di Provinsi Banten tersebut meminta Muspida Lebak dan Muspika Cibeber serta para pejabat terkait supaya melakukan koordinasi melalui pemanfaatan program PNPM Mandiri Pedesaan untuk diarahkan ke 7 desa yang ada di wilayah Kecamatan Cibeber.

"Secara kewenangan yang seharusnya bertanggung jawab untuk perbaikan jalan tersebut adalah Pemkab Lebak. Silahkan kaolotan berkoordinasi dulu dengan Pemkab Lebak," ujarnya. (H-34)***

(Kabar Banten, 28 Juni 2010)
Baca salajengna...

Selasa, 18 Mei 2010

Satu dari beberapa mata pencaharian musiman di daerah Cibeber

Cengkeh,
Ya... tanaman yang bisa berumur tua hingga berabad-abad inilah sebagai pendapatan dan mata pencaharian musiman masyarakat daerah Cibeber dan sekitarnya termasuk kp. Cibeureum itu sendiri.
Pohon cengkeh ini tumbuh dengan subur tersebar luas mulai dari sebelah utara cibeber hingga ke selatan, termasuk sebagian kecamatan Bayah.
Sebagai tanaman rempah yang dicari-cari tengkulak semenjak zaman portugis ini, maka masyarakat daerahpun sangat diuntungkan dengan hasil penjualannya yang bisa dibilang lumayan untuk mengisi dapur agar ngebul terus.
Baik yang kuli, maupun yang punya sendiri, saat2 panenlah yang menjadi moment berharga, dimana setiap yang masih jagjag ikut merasakan indahnya penghasilan panen cengkeh ini, jangan heran ketika musim yang satu tahun sekali ini masyarakat daerahnya bisa membeli barang2 mulai kebutuhan pokok, hingga kebutuhan tersier bisa didapatkannya. Huh.... begitu lumayan ternyata, ya... meskipun setahun sekali tapi bisa di andalkan untuk mengisi kantong.
Harga satu gelas takar bisa mencapai mulai dari Rp 4500,- hingga Rp 7000,- tergantung si tengkulaknya. Pernah pada tahun 2000 harga satu gelas cengkeh mencapai Rp 15.000,- hingga Rp 20.000,- Waw... masa Punjak kejayaan cengkeh, kalau sekilo berapa ya masa itu ...??, hmmm... gak kebayang lah...!!
Tapi sayang tanaman ini mulai dari nanam biji hingga pertama panen harus menunggu 10 tahun. ''ya... jadi surut deh antusias menanam''. Tapi tenang Departemen pertanian tidak diam begitu saja, mereka mengutak-atik hingga menghasilkan bibit unggul yang bisa dipanen sampai 4,5 -5 tahun saja, memang sih pertama panen agak sedikit karena faktor tanaman ini masih tumbuh kecil.
Akhirnya ternyata Pemerintah tidak tinggal diam ya....!! Asal kita sebagai masyarakat bisa aktif dan mau mendukung pemerintah yang positif tentunya.
Bisa jadi makelar cengkeh nich...!!
Ayo masyarakat mulai budi dayakan kembali tanaman-tanaman yang berpotensi melindungi Oksigen sekaligus melindungi kantong kita. hehe... he...:-)





oleh:
Elna syamsudin
Baca salajengna...

Sabtu, 01 Mei 2010

Filosofi si Kabayan

Teu kudu ngarasula mun urang can diparengkeun pinanggih jeung kabagjaan. Naon sababna? Da hirup mah lain keur senang-senang, kitu saur pa Ustad oge. Ari geus keurnaon atuh saestuna urang hirup teh?

Jawaban idealna, hirup teh lir ibarat sakola. Unggal poe urang kudu terus-terusan diajar. Kudu perih, teu kaci ogoan, teu kaci melencing, mumul, babarian jsb. Ku naon make kudu tipoporose diajar? Pan sangkan lulus ujian. Eta tujuan jangka pondokna. Cukup nepi ka dinya? Tangtu bae henteu ngan ukur tepi ka dinya, sabab tujuan jangka panjang sarta anu pangpentingna pisan mah bisa nyangking tur ngamalkeun naon-naon anu ku urang diundeuran di sakola. Ku naon pangna kudu lulus ujian? Pan nya di dinya pisan urang bisa ngukur kamampuh urang sangkan kanyahoan nepi kamana nyerepna elmu.

Sanajan hirup memang lain keur senang-senang, tapi lain hartina hirup teh bakal susah salilana. Cek si Kabayan, hirup mah heuheuy jeung deudeuh. Maksudna, tara senang salilana, oge sabalikna tara susah salilana. Aya waktuna urang seuri bungah, sanajan kadang-kadang urang kudu ngarandapan kasedih, katugenah jeung sajabana. Hanjakalna, kalolobaanana urang mah sok sarakah, hayang senang salilana, nepi ka lamun ngarandapan kasusah teh sok aral, malah sakapeung mah jiga nu mangloh ka Pangeran. "Duh Gusti, na hirup teh mani asa susah-susah teuing atuh?" Padahal mun keur senang mah boro-boro inget kana sukuran, nganuhunkeun ka nu Maha Masihan Kasenangan.

Mun urang daek diajar, sabenerna loba hal anu bia diconto tina carita-carita si Kabayan. Tokoh rekaan nu hirup dina budaya Sunda ieu teh, saestuna lain ngan saukur tokoh pangedulan nu kabisana ngan ukur nipu batur, calutak ka mitoha jsb. Si Kabayan mah ngan ukur wayang. Sikep, rengkak paripolah, katut pamikiranana ditangtukeun ku dalang nu ngigelkeunana. Ajip Rosidi dina salah sahiji essayna kungsi nyebutkeun:

"...pasipatan tokoh si Kabayan téh henteu salilana konsisten. Maksud téh dina saban carita sipat si Kabayan téh henteu salilana sarua. Sakapeung digambarkeun pangedulan, teu nyaho di cedo, wani kurang ajar ngaheureuykeun mitoha. Sakapeung digambarkeun jadi tukang tipu anu resep ngabobodo batur kaasup mitohana sorangan. Cindekna unggal pangarang anu nyiptakeun carita si Kabayan bisa ngagambarkeun pasipatan tokohna luyu jeung kahayangna."

Hanjakalna, cek pamanggih kuring, aya nu kaliwat dina statement Ajip. Si Kabayan teu salawasna digambarkeun ngabogaan sipat negatip. Lamun urang leukeun ngalenyepanana, saenyana dina dongeng si Kabayan loba siloka nu bisa dijadikeun luang. Upamana wae tina carita di handap ieu:

Hiji poe si Kabayan jeung si Lamsijan jalan-jalan ngajugjug ka hiji tempat. Sapanjang jalan si Lamsijan teu weleh gogodeg sabab teu ngarti ku lalampahan si Kabayan. Unggal manggih tanjakan si Kabayan ngagakgak seuseurian siga nu manggih kabungah rongkah. Sabalikna, unggal manggih pudunan manehna ceurik ngageunggeuik jiga nu kanyenyerian. Banget teu ngarti, tungtungna si Lamsijan nanya.

"Kabayan, kami mah teu ngarti, ku naon unggal manggih tanjakan silaing kalah seuseurian, padahal kami mah kacida susahna sabab nanjak teh cape? Ari manggih pudunan, hayoh kalah curik jiga nu susah, padahal kami mah bungah, sabab leumpang ge ngareunah teu matak cape. Henteu siwah mah silaing teh?"

"Ah, teu gelo teu sing. Silaing we nu bodo. Ieuh Lamsijan, pangna kami seuseurian mun manggih tanjakan teh, kami mah nyaho mun geus nanjak pasti manggih pudunan. Pan lain matak bungah eta teh? Nu matak kami kalahka seuseurian. Sabalikna mun keur leumpang dina pudunan, kami kacida sedihna, sabab yakin sanggeus beak pudunan, pasti bakal manggih tanjakan. Na dikira ngeunah kitu leumpang di nu nanjak teh? Nu matak tong heran mun kami ceurik sajeroning leumpang mapay pudunan."

Sabengbatan, carita di luhur siga carita lelewodeh ti jelema nu teu pati jejeg. Padahal saestuna ieu teh siloka nu kacida lantipna. Aya pesen moral yen urang salawasna kudu siap nyanghareupan kajadian naon bae nu bakal tumiba ka urang. Mun ayeuna kabeneran keur nanjung jadi pejabat, ulah nepi ka poho yen hiji mangsa mah urang bakal turun tina kalungguhan nu keur dicangking kiwari. Mun urang keur beunghar lubak libuk loba dunya, ulah poho yen eta teh ukur titipan, tur kudu rido mun sawaktu-waktu dipundut ku nu Kagungan. Sabalikna mun urang keur aya dina kasusahan, omat ulah putus pangharepan, sabab pasti dina hiji mangsa mah urang bakal kasinugrahaan ku kasenangan.

Pan cek tadi ge, hirup mah heuheuy jeung deudeuh.

kutipan ti bergaul.com
Baca salajengna...